Minggu, 26 Oktober 2014



SEPUCUK SURAT UNTUK HELENA

Hidup ini memang tidak bias di tebak-tebak. Mungkin hari ini akan menjadi hari yang menyenangka, namun tentang hari esok siapa yang tau? Demikian pulalah dengan suatu pekerjaan yang di miliki tiaap-tiap orang di dinia ini. Ada yang bekerja sebagai pembisnis, ada yang dokter ada yang guru atau bahkan ada yang bekerja dalam bidang seni. Sungguh bermacam-macam tiap profesi di dunia ini.
Dalam bagian cerita yang satu ini menceritakan tentang pekerjaan yang di geluti para pemuda di samping kesibukan kuliah mereka. Kuliah memang sangat sibuk, perlu menguras otak dan tenaga. Namun  hal itu tidak membuat sekelompok teman ini lelah akan mencari dana mereka. Mereka memang tidak seberuntung pemuda lain yang hidupnya serba berkecukupan. Mereka haruslah melakukan pekerjaan di luar kuliah mereka, demi uang untuk melanjutkan kuliah mereka harus rela melakukan itu.
Di hari yang dingin, hembusan angin yang bertiup kencang, angin keras itu juga membuat pepohonan melambai-lambai. Segera berkemas hari pertama masuk kuliah. Helena yang masih lelah kerja malam harus melanhkahkan kakinya dengan cepat menuju kampus. Seketika ingin menyebrang ia harus selamatkan seorang nenek yang hendak ingin menyebrang jalan. Dengan teliti ia membantu nenek itu hingga selamat ke seberangjalan. Sebuah motor mewah dating dengan cepatnya hamper menyerepet dirinya. Untung,,, untung,,,,untung,,,, Helena hanya sedikit lecet akibat terjatuh kejalanan. Meski yang menyerempetnya tidak merasa bersalah dan pergi begitu saja namun Helena menghapal wajahnya dengan penuh kesal.
Setiba di ruangan dengan terkejutnya ia meliha seorang pria yang hamper mencelakainya. Dengan kesal ia menghampirinya. Dengan suara keras ia mulai membentak menyurunya minta maaf. Namun sepertinya kutrang berhasil . Angga malah balik membentaknya, ia malah menyuruh Helena untuk berhati-hati lagi berjalan. Dengan cepat Helena meninggalkanya dengan wajah kesal dan marah.
Melayani di sebuah restoran besar seperti ini mungkin sangatlah melelahkan. Tapi bagi Helena, Julianty, dan Kiran terasa menyenangkan. Malam hari yang larut tiba saatnya ketiga sahabat itu bergegas pulang. Mungkin hari ini juga adalah hari yang menguntungkan bagi Helena, ia bertemu di tengah jalan dengan Fendi teman sewaktu smu dulu. Setelah banyak berbincang-bincang ditengah jalan ternyata mereka satu kampus juga, meski Fendi lebih awal satu tahun kulian darinya, Andi adalah seniornya waktu smu dulu jadi wajar aja dia yang lebih awal disana. Fendi mahasiswa bidang seni music itu ternyata orang yang humoris. Sepanjang perjalanan ia membuat Helena terbahak-bahak karena cerita lucunya Fendi. Hal itu membuat mereka sedikit pergi ke masa lalu dimana Fendy dan juga Helena pernah dekat meski mereka tidak punya hubungan khusus apapun.
Siang hari yang terik dan panas membuat Helena harus ke taman kampus untuk belejar sedikit tentang keliling kampus atau tepatnya melihat-lihat lokasi yang ia belum tahu segalanya tentang kampus. Pemandangan yang kurang indah harus terjadi detik itu juga. Lagi-lagi ia harus bertemu Angga yang baginya sangat menyebalkan itu. Suasananya juga semakin ricuh saat Angka dengan jengkelnya menendang kaleng minuman kosong hingga mengenai kaki Helena. Dengan segera Helena teriak menjerit kesakitan. Dengan rasa menyesal Angga mendekatinya dam membantunya berdiri. Angga sangat menyesali perbuatanya itu sampai-sampai ia menuntun Helena masuk ruangan. Wah,,,,,, hari itu juga tampak berbeda, pria nakal itu mulai berhenti berbuat jengkel dengan orang-orang semenjak ia melukai Helena. Sadar atau bukan Angga mulai perhatian terhadap Helena, mulai dari kesibukannya ataupun segala aktifitas yang dilakukanya Helena diselidikinya diam-diam.
Diperjalanan seketika Julianty dan Kiran hendak menghantarkan Fendy kekosnya mereka bertemu dengan Angga dan Helena di depan rumah kosnya yang baru pulang dari perjalanan. Melihat hal itu Fendy sangat tidak suka dengan Angga. Sepertinya Fendy cemburu, namun ia tidak bias berbuat banyak ia memilih pulang dari pada menemui Helena.  Fendy yang sibuk di ruang music sangat terganggu karena fikiranya yang melayang-layak memikirkan Helena dan Angga. Ia terkejut mengapa Angga yang ternyata sepupunya itu dekat dengan Helena yang sangat ia sayangi. Di lain pemikiran lagi ia sangat benci Angga sepupunya itu karena sikapnya yang semena-mena terhadap dirinya di dalam keluarganya. Ia dan ibunya sangat tidak di anggap oleh orang tua Angga, namun nenek mereka sangat menyayangi Fendy dan ibunya. Mungkin pemikiran lain Fendy dan ibinya tidak di hargai lagi oleh sebab ayahnya yang sudah meninggal, sedangkan orangtua Angga masih lengkap.
Cinta , ya sinta,, membuat Angga dan Helena semakin dekat. Hal ini membuat Fendy yang sudah kenal lama dengan Helena itu tidak tinggal diam lagi. Ia merasa Hlena tidak cocok dengan Angga, ia merasa bahwa dirinya yang lebih layak untuk menjadi pasangan Helena. Ditaman yang damai Angga yang tengah bersantai menunggu kekasihnya Helena membelikan sebuah makanan kecil untuknya. Fendy dating dengan sendirinya langsung menarik pakaiannya dan menyampaikan sebuah pesan agar dirinya mennggalkan Helena segera. Mendengar hal itu amarah Angga bangkit dan dengan spontan memukul keras wajah Fendy hingga terjatu kedepan kaki Helena yang tengah datang ketaman itu. Melihat hal itu Helena sangat marah pada Angga.  Ia  menganggap Angga sudah tidak akan pernah berubah dari kekasaranya itu.  Meski Angga berusaha minta maaf Helena tetap tidak menghiraukannya, ia malah membantu Fendy berdiri.
Sangat tidak di percaya oleh Helena ketika Fendy menjelaskan semua tentang Angga dan dirinya. Lebih tidak di percaya lagi ketika Fendy mengungkapkan perasaanya pada Helena. Dengan kecewa Helena menolak semua perkataan Fendy, Helena hanya menganggap Fendy sebagai sosok kakak yang baik baginya tidak lebih. Helena langsung pergi begitu saja dari Fendy. Ia menemui Angga yang tengah di kantin makan sendirian. Dengan suara nyaring ia memanggil nama Angga dan minta maaf atas apa yang sudah di lakukannya di taman kemarin. Namun Angga tersenyum sambil memegang tangan Helena dengan perlahan ia mengatakan bahwa dirinya tidak sakit hati akan hal itu.
Hari-hari pun terus berlalu. Hubungan Angga dan Helena pun semakin dekat. Helena kini harus menghadapi suasana hati Fendy yang memburuk terhadap dirinya dan Angga. Kini ia harus pandai melihat keadaan Fendy sebab jika ia tidak menguasai hati Fendy maka Fendy akan berbuat kasar pada Angga. Mingkin hal ini semakin membuat dia kefikiran, ditambah KIran dan Julianty yang sudah pindah keluar kota untuk menempuh pendidikan yang baru disana. Helena harus sendiri menghadapi masalahnya hari ini belum juga ia memikirkan pekerjaanya.
Siapa yang dapat menduga, jika kesibukanya membuatnya jatu sakit yang tingkatnya cukup parah. Ia harus dirawat inap dirumah sakit. Kini keadaanya sangat mamperihatinkan. Dokter sampai saat ini belum jiga memberitahu apa penyakitnya, tentu saja hal ini membuat Angga sangta terpukul. Helena yang kesehariannya sendirian tidak ada orang yang dimintainya pertolongan hanya Angga seorang yang harus bolak-balik RS menjenguknya. Dokter yang terang-terangan memberitahu pada Angga bahwa Helena terlalu lelah akan kesibikannya sehingga ia mengalami gagal ginjal. Dokter mengatakan ia segera mendapatkan donor ginjal. Tentu hal itu bukanlah mudah mencarinya meskipun Angga memiliki cukup materi namun itu tidak menjadi andalan ia dapat donor ginjal itu dengan cepat.
Fendy yang tengah istirahat di kantin tepatnya di kampusnya, ia harus mendengarkan kabar menyakitkan itu. Ia segera berlari menuju RS menemui Helena. Seketika ia melihat Helena yang tengah tertidur kaku dengan wajah biru ia menjatuhkan air mata, dengan perlahan ia menghampiri Helena. Dengan sentuhan lembut, tangannya mengusap-usap kepala Helena. Tak pernah terfikir olehnya Helena akan mengalami hal berat sepeti itu. Kini ia harus meratapi nasib Helena gadis pujaanya itu. Tak lama setelah Fendy pergi dari kamar Helena Angga datang membawa makanan ringan untuk Helena. Ia pun menanyai Helena akan Fendy yang datang ke RS, namun Helena hanya mengatakan bahwa Fendy prihatin atas keadaanya saat ini.
Hari-berganti hari, minggu berganti minggu. Keadaan Helena kini semakin memburuk. Kini ia tidak dapat berdiri sama sekali. Hanya dengan bantuan Angga ia dapat duduk di kursi rodanya dan berjalan keluar. Melihat hal itu tergeraklah hati Fendy mendonorkan ginjalnya untuk Helena.  Segera hal itu dilakukanya, namun ia menuliskan surat saja untuk Helena bahwa saat ia berhasil melakukan operasi itu ia akan meninggalkan Helena untuk Angga dan pergi jauh, inti surat itu bahwa Fendy ikhlas melakukan donor tersebut.
Operasi berjalan dengan baik, kini Helena merasa baik dengan tubuhnya, namun ia belum tau dari siapa ginjal yang telah ia dapatkan. Tak lama seoranf suster datang membawakan sepucuk surat untuknya. Ketika ia mlihat surat itu kemudian ia membacanya. Betapa sedihnya ia ketika ia tahu ginjal itu milik Fendy. Perlahan ia segera meninggalkan kamarnya dan menuju ruang operasi Fendy. Tak lama beberapa suster membawa seorang mayat keruang pemandian mayat. Mata yang berlinang air mata itupun melihat bahwa mayat itu adalah Fendy. Suster menjelaskan bahwa ia dalam keadaan tidak sehat ketika melakukan operasi tersebut dan jantungnya terlalu lemah maka karena itu ia meninggal. Betapa sakitnya perasaan Helena saat itu. Dengan suara keras ia berteriak memanggil nama Fendy di depan mayat Fendy.
Hal yang menyakitkan itu sangat menempel di otak Helena. Berulang-ulang ia membaca surat dari Fendy. Selagi-lagi ia membaca kalimat bahwa Fendy tidak menyesal melakukan hal itu, Fendy pun menjelaskan ia melakukan itu karena ia tidak tahan melihat wanita yang dicintainya sakit. Angga hanya dapat menyasal pada dirinya jika selama ini di telah berfikiran beruk terhadap Fendy
Ternyata orang yang kita anggap buruk bias juga melakukan yang baik bagi kita. Maka dari itu tidak perlu kita membanci seseorang dengan berlebihan. Sayangilang orang-orang disekelilingmu. Karena tanpa engkau sadari mereka akan melalukan hal yang baik bagimu jika saatnya tiba nanti. Cerita ini cukup mengajarkan kita bahwa pertemanan dengan luas lbih baik dari pada harus bermusuhan.

                                                 
    OLEH : HERLINA JULIANTY PANDIANGAN