SEPUCUK SURAT
UNTUK HELENA
Hidup ini memang tidak bias di
tebak-tebak. Mungkin hari ini akan menjadi hari yang menyenangka, namun tentang
hari esok siapa yang tau? Demikian pulalah dengan suatu pekerjaan yang di
miliki tiaap-tiap orang di dinia ini. Ada yang bekerja sebagai pembisnis, ada
yang dokter ada yang guru atau bahkan ada yang bekerja dalam bidang seni.
Sungguh bermacam-macam tiap profesi di dunia ini.
Dalam bagian cerita yang satu ini
menceritakan tentang pekerjaan yang di geluti para pemuda di samping kesibukan
kuliah mereka. Kuliah memang sangat sibuk, perlu menguras otak dan tenaga.
Namun hal itu tidak membuat sekelompok
teman ini lelah akan mencari dana mereka. Mereka memang tidak seberuntung
pemuda lain yang hidupnya serba berkecukupan. Mereka haruslah melakukan pekerjaan
di luar kuliah mereka, demi uang untuk melanjutkan kuliah mereka harus rela
melakukan itu.
Di hari yang dingin, hembusan angin
yang bertiup kencang, angin keras itu juga membuat pepohonan melambai-lambai.
Segera berkemas hari pertama masuk kuliah. Helena yang masih lelah kerja malam
harus melanhkahkan kakinya dengan cepat menuju kampus. Seketika ingin
menyebrang ia harus selamatkan seorang nenek yang hendak ingin menyebrang
jalan. Dengan teliti ia membantu nenek itu hingga selamat ke seberangjalan. Sebuah
motor mewah dating dengan cepatnya hamper menyerepet dirinya. Untung,,,
untung,,,,untung,,,, Helena hanya sedikit lecet akibat terjatuh kejalanan.
Meski yang menyerempetnya tidak merasa bersalah dan pergi begitu saja namun
Helena menghapal wajahnya dengan penuh kesal.
Setiba di ruangan dengan
terkejutnya ia meliha seorang pria yang hamper mencelakainya. Dengan kesal ia
menghampirinya. Dengan suara keras ia mulai membentak menyurunya minta maaf.
Namun sepertinya kutrang berhasil . Angga malah balik membentaknya, ia malah
menyuruh Helena untuk berhati-hati lagi berjalan. Dengan cepat Helena
meninggalkanya dengan wajah kesal dan marah.
Melayani di sebuah restoran besar
seperti ini mungkin sangatlah melelahkan. Tapi bagi Helena, Julianty, dan Kiran
terasa menyenangkan. Malam hari yang larut tiba saatnya ketiga sahabat itu
bergegas pulang. Mungkin hari ini juga adalah hari yang menguntungkan bagi
Helena, ia bertemu di tengah jalan dengan Fendi teman sewaktu smu dulu. Setelah
banyak berbincang-bincang ditengah jalan ternyata mereka satu kampus juga,
meski Fendi lebih awal satu tahun kulian darinya, Andi adalah seniornya waktu
smu dulu jadi wajar aja dia yang lebih awal disana. Fendi mahasiswa bidang seni
music itu ternyata orang yang humoris. Sepanjang perjalanan ia membuat Helena
terbahak-bahak karena cerita lucunya Fendi. Hal itu membuat mereka sedikit
pergi ke masa lalu dimana Fendy dan juga Helena pernah dekat meski mereka tidak
punya hubungan khusus apapun.
Siang hari yang terik dan panas
membuat Helena harus ke taman kampus untuk belejar sedikit tentang keliling
kampus atau tepatnya melihat-lihat lokasi yang ia belum tahu segalanya tentang
kampus. Pemandangan yang kurang indah harus terjadi detik itu juga. Lagi-lagi
ia harus bertemu Angga yang baginya sangat menyebalkan itu. Suasananya juga
semakin ricuh saat Angka dengan jengkelnya menendang kaleng minuman kosong
hingga mengenai kaki Helena. Dengan segera Helena teriak menjerit kesakitan.
Dengan rasa menyesal Angga mendekatinya dam membantunya berdiri. Angga sangat
menyesali perbuatanya itu sampai-sampai ia menuntun Helena masuk ruangan.
Wah,,,,,, hari itu juga tampak berbeda, pria nakal itu mulai berhenti berbuat
jengkel dengan orang-orang semenjak ia melukai Helena. Sadar atau bukan Angga
mulai perhatian terhadap Helena, mulai dari kesibukannya ataupun segala
aktifitas yang dilakukanya Helena diselidikinya diam-diam.
Diperjalanan seketika Julianty dan
Kiran hendak menghantarkan Fendy kekosnya mereka bertemu dengan Angga dan
Helena di depan rumah kosnya yang baru pulang dari perjalanan. Melihat hal itu
Fendy sangat tidak suka dengan Angga. Sepertinya Fendy cemburu, namun ia tidak
bias berbuat banyak ia memilih pulang dari pada menemui Helena. Fendy yang sibuk di ruang music sangat
terganggu karena fikiranya yang melayang-layak memikirkan Helena dan Angga. Ia
terkejut mengapa Angga yang ternyata sepupunya itu dekat dengan Helena yang
sangat ia sayangi. Di lain pemikiran lagi ia sangat benci Angga sepupunya itu
karena sikapnya yang semena-mena terhadap dirinya di dalam keluarganya. Ia dan
ibunya sangat tidak di anggap oleh orang tua Angga, namun nenek mereka sangat
menyayangi Fendy dan ibunya. Mungkin pemikiran lain Fendy dan ibinya tidak di
hargai lagi oleh sebab ayahnya yang sudah meninggal, sedangkan orangtua Angga
masih lengkap.
Cinta , ya sinta,, membuat Angga
dan Helena semakin dekat. Hal ini membuat Fendy yang sudah kenal lama dengan
Helena itu tidak tinggal diam lagi. Ia merasa Hlena tidak cocok dengan Angga,
ia merasa bahwa dirinya yang lebih layak untuk menjadi pasangan Helena. Ditaman
yang damai Angga yang tengah bersantai menunggu kekasihnya Helena membelikan
sebuah makanan kecil untuknya. Fendy dating dengan sendirinya langsung menarik
pakaiannya dan menyampaikan sebuah pesan agar dirinya mennggalkan Helena
segera. Mendengar hal itu amarah Angga bangkit dan dengan spontan memukul keras
wajah Fendy hingga terjatu kedepan kaki Helena yang tengah datang ketaman itu.
Melihat hal itu Helena sangat marah pada Angga.
Ia menganggap Angga sudah tidak
akan pernah berubah dari kekasaranya itu.
Meski Angga berusaha minta maaf Helena tetap tidak menghiraukannya, ia
malah membantu Fendy berdiri.
Sangat tidak di percaya oleh Helena
ketika Fendy menjelaskan semua tentang Angga dan dirinya. Lebih tidak di
percaya lagi ketika Fendy mengungkapkan perasaanya pada Helena. Dengan kecewa
Helena menolak semua perkataan Fendy, Helena hanya menganggap Fendy sebagai
sosok kakak yang baik baginya tidak lebih. Helena langsung pergi begitu saja
dari Fendy. Ia menemui Angga yang tengah di kantin makan sendirian. Dengan
suara nyaring ia memanggil nama Angga dan minta maaf atas apa yang sudah di
lakukannya di taman kemarin. Namun Angga tersenyum sambil memegang tangan
Helena dengan perlahan ia mengatakan bahwa dirinya tidak sakit hati akan hal
itu.
Hari-hari pun terus berlalu.
Hubungan Angga dan Helena pun semakin dekat. Helena kini harus menghadapi
suasana hati Fendy yang memburuk terhadap dirinya dan Angga. Kini ia harus
pandai melihat keadaan Fendy sebab jika ia tidak menguasai hati Fendy maka
Fendy akan berbuat kasar pada Angga. Mingkin hal ini semakin membuat dia
kefikiran, ditambah KIran dan Julianty yang sudah pindah keluar kota untuk
menempuh pendidikan yang baru disana. Helena harus sendiri menghadapi
masalahnya hari ini belum juga ia memikirkan pekerjaanya.
Siapa yang dapat menduga, jika
kesibukanya membuatnya jatu sakit yang tingkatnya cukup parah. Ia harus dirawat
inap dirumah sakit. Kini keadaanya sangat mamperihatinkan. Dokter sampai saat
ini belum jiga memberitahu apa penyakitnya, tentu saja hal ini membuat Angga
sangta terpukul. Helena yang kesehariannya sendirian tidak ada orang yang
dimintainya pertolongan hanya Angga seorang yang harus bolak-balik RS
menjenguknya. Dokter yang terang-terangan memberitahu pada Angga bahwa Helena
terlalu lelah akan kesibikannya sehingga ia mengalami gagal ginjal. Dokter
mengatakan ia segera mendapatkan donor ginjal. Tentu hal itu bukanlah mudah
mencarinya meskipun Angga memiliki cukup materi namun itu tidak menjadi andalan
ia dapat donor ginjal itu dengan cepat.
Fendy yang tengah istirahat di
kantin tepatnya di kampusnya, ia harus mendengarkan kabar menyakitkan itu. Ia
segera berlari menuju RS menemui Helena. Seketika ia melihat Helena yang tengah
tertidur kaku dengan wajah biru ia menjatuhkan air mata, dengan perlahan ia
menghampiri Helena. Dengan sentuhan lembut, tangannya mengusap-usap kepala
Helena. Tak pernah terfikir olehnya Helena akan mengalami hal berat sepeti itu.
Kini ia harus meratapi nasib Helena gadis pujaanya itu. Tak lama setelah Fendy
pergi dari kamar Helena Angga datang membawa makanan ringan untuk Helena. Ia
pun menanyai Helena akan Fendy yang datang ke RS, namun Helena hanya mengatakan
bahwa Fendy prihatin atas keadaanya saat ini.
Hari-berganti hari, minggu berganti
minggu. Keadaan Helena kini semakin memburuk. Kini ia tidak dapat berdiri sama
sekali. Hanya dengan bantuan Angga ia dapat duduk di kursi rodanya dan berjalan
keluar. Melihat hal itu tergeraklah hati Fendy mendonorkan ginjalnya untuk
Helena. Segera hal itu dilakukanya,
namun ia menuliskan surat saja untuk Helena bahwa saat ia berhasil melakukan
operasi itu ia akan meninggalkan Helena untuk Angga dan pergi jauh, inti surat
itu bahwa Fendy ikhlas melakukan donor tersebut.
Operasi berjalan dengan baik, kini
Helena merasa baik dengan tubuhnya, namun ia belum tau dari siapa ginjal yang
telah ia dapatkan. Tak lama seoranf suster datang membawakan sepucuk surat
untuknya. Ketika ia mlihat surat itu kemudian ia membacanya. Betapa sedihnya ia
ketika ia tahu ginjal itu milik Fendy. Perlahan ia segera meninggalkan kamarnya
dan menuju ruang operasi Fendy. Tak lama beberapa suster membawa seorang mayat
keruang pemandian mayat. Mata yang berlinang air mata itupun melihat bahwa
mayat itu adalah Fendy. Suster menjelaskan bahwa ia dalam keadaan tidak sehat
ketika melakukan operasi tersebut dan jantungnya terlalu lemah maka karena itu
ia meninggal. Betapa sakitnya perasaan Helena saat itu. Dengan suara keras ia
berteriak memanggil nama Fendy di depan mayat Fendy.
Hal yang menyakitkan itu sangat
menempel di otak Helena. Berulang-ulang ia membaca surat dari Fendy.
Selagi-lagi ia membaca kalimat bahwa Fendy tidak menyesal melakukan hal itu,
Fendy pun menjelaskan ia melakukan itu karena ia tidak tahan melihat wanita
yang dicintainya sakit. Angga hanya dapat menyasal pada dirinya jika selama ini
di telah berfikiran beruk terhadap Fendy
Ternyata orang yang kita anggap
buruk bias juga melakukan yang baik bagi kita. Maka dari itu tidak perlu kita
membanci seseorang dengan berlebihan. Sayangilang orang-orang disekelilingmu.
Karena tanpa engkau sadari mereka akan melalukan hal yang baik bagimu jika
saatnya tiba nanti. Cerita ini cukup mengajarkan kita bahwa pertemanan dengan
luas lbih baik dari pada harus bermusuhan.
OLEH
: HERLINA JULIANTY PANDIANGAN
